Powered By Blogger

WELCOME

SELAMAT DATANG KE BLOG KU YANG SEDERHANA INI. SEMOGA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA. AMIN!

Rabu, 06 Oktober 2010

PERANAN MENYIMAK DALAM KETERAMPILAN BERBAHASA: MENYIMAK SEBAGAI ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

BAB I PERANAN MENYIMAK DALAM KETERAMPILAN BERBAHASA Kegiatan Belajar 1 1.1 URAIAN 1.1.1 Menyimak sebagai Aspek Keterampilan Berbahasa Dalam era pembangunan dewasa ini makin lama makin kita rasakan pentingnya berkomunikasi baik antar anggota masyarakay maupun antar kelompok dalam masyarakat. Alat komunikasi yang paling ampuh adalah bahasa. Dengan bahasa manusia sebagai makhluk sosial dapat berhubungan satu sama lain secara efektif. Dengan bahasa kita menyatakan perasaan, pendapat, bahkan, dengan bahasa kita berpikir dan bernalar. Oleh karena itu agar komunikasi berjalan lancar; tidak menimbulkan salah paham, kita perlu terampil berbahasa baik lisan maupun tulis. Suatu komunikasi dikatakan berhasil apabila pesan yang yang disampaikan pembicara dapat dipahami dengan baik oleh penyimak atau pembaca sesuai dengan maksud pembicara atau penulis tersebut. Keterampilan berbahasa erat kaitannya dengan proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin cerah jelas pikiran seseorang semakin terampil seseorang berbahasa. Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir (Dawson, 1963: 27; Tarigan; 1980: 1). Keterampilan berbahsa menuntut adanya pengetahuan dan pengalaman dalam berbahasa maupun nonkebahasaan perlu dimiliki. Demikian pula pengetahuan berbahasa belum dianggap lengkap kalau tidak dibarengi dengan pengalaman berbahasa. Pengalaman berbahasa hanya didapat melalui latihan yang intensif yang dapat mengembangkan potensi yang ada pada diri seseorang. Dengan demikian akan diperoleh keahlian bagaimana menggunakan daya pikir secara efektif, melalui bahsa lisan maupun bahasa tulis. Dalam komunukasi berbahasa ada empat aspek keterampilan, yaitu: 1) keterampilan menyimak; 2) keterampilan berbicara; 3) keterampilan membaca; dan 4) keterampilan menulis. Keempat keterampilan ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena itu, keempat keterampilan itu disebut catur-tunggal. Bahasa sebagai alat komunikasi itu ada yang bersifat lisan, yaitu bahsa yang berwujud kontinum huruf yang dapat didengarkan, dan ada yang bersifat tulis, yaitu bahasa yang berwujud rangkaian huruf yang dibaca. Baik bahasa lisan maupun tulisan di dalamnya terkandung makna yang dapat menimbulkan respons, atau tanggapan dari orang yang mendengar atau membacanya (Universitas Terbuka, 1985: 19). Keterampilan menyimak dan membaca disebut keterampilan reseptif sebab selama berlangsung kegiatan komunikasi tersebut, penyimak atau pembaca aktif menerima, menangkap, memahami, dan mengingat ujaran atau huruf yang diterimanya. Dapat juga dikatakan keterampilan aktif reseptif. Secara fisik penyimak dan pembaca pasif menerima pesan-pesan atau informasi-informasi melalui pendengarannya atau matanya. Tetapi sebenarnya secara mental penyimak atau pembaca aktif mencerna, mengolah pesan-pesan tersebut agar dapat memahami maksudnya. Keterampilan berbicara dan menulis dikatakan keterampilan produktif karena pembicara dan penulis secara aktif memproduksi ide-ide, informasi-informasi, dengan menggunakan bahasa yang dapat dipahami pembaca atau pendengarnya sehingga mereka mampu merespons, menanggapi, atau mengolah apa yang didengar atau dibacanya. Keterampilan menyimak dan berbicara merupakan proses alamiah yang timbul karena adanya kontak sosial antarmanusia. Sedangkan keterampilan membaca dan menulis tidak akan terwujud tanpa mempelajari dasar-dasar pengetahuan lebih dulu, disertai latihan yang intensif. Jadi, keterampilan membaca dan menulis bukan merupakan proses alamiah yang begitu saja dimiliki. seseorang seperti halnya menyimak dan berbicara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar