Powered By Blogger

WELCOME

SELAMAT DATANG KE BLOG KU YANG SEDERHANA INI. SEMOGA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA. AMIN!

Minggu, 22 Mei 2011

Amazing Teacher 2

Chapter 2. Tantangan! '' Huuh! Sekarang aku mengerti mengapasampai ada sekolah yang membuat untuk mencari guru. Jadwal pelajaran ini juga berisikan bahwa aku yang mengajarkan seluruh mata pelajaran dikelas ini. Tapi, ini akan sangat menarik.'' Yoga mengikuti siswa-siswa kelas 2E sampai ke kantin. " Woi...woi...woi! Sekarang masih jam pelajaran, belum istirahat. Cepat kembali ke kelas!", Yoga menyuruh mereka yang sedang makan. Seorang siswa mendekati Yoga. " Syukurlah kamu mau ke kelas." " Kata siapa?" "Hm. " Coba Bapak lihat jam Bapak!" " Ha? Apa? Sudah pukul 13.00. Aku ketiduran sampai jam pelajaran habis." " Bapak bisa dikeluarkan karena hal ini", Sam mengancam. " Ha ha ha ... Tidak mungkin. Karena Bapak sudah minta izin ke kepala sekolah." " Omong kosong. Ayo semua kita pulang, jangan dengarkan kata-kata orang itu. Tidak penting." " Besok jangan malas ya! Bapak tunggu." Kelas kembali kosong dalam sekejap. Suasana menjadilengang. " Aku belum sempat mengajar satu pelajaran pun. Masak hari pertama sudah menemui masalah. Aku harus mempersiapkan strategi untuk besok." ¤¤¤ Yoga masuk ke kantor guru. Semua guru sudah berkemas-kemas untuk pulang. " Bagaimana Pak, ada masalah di hari pertama?" Pak Joko menyindir. Dia adalah guru matematika yang masih bujang lapok. Melihat dari penampilannya memang sulit bagi wanita untuk tertarik. Kacamatanya besar sekali. Seperti dua buah kaca spion sepeda motor. " Alhamdulillah tidak ada Pak. Anak-anak baik-baik semua." " Saya tidak yakin", Bu Yumi menambahkan. Bu Yumi adalah guru kesenian. Dia sangat ahli dalmmembuat patung, melukis, dan banyak kesenian yang lainnya. Dia memang serba bisa dalam bidang seni. Umurnya 31 tahun dan sudah mengabdi di sekolah ini selama 5 tahun. " Bapak dan Ibu memang lucu ya. Memang sihanak-anak itu sedikit nakal. Tapi, mereka memiliki kemampuan lebih dibandingkan siswa lain. Saya bisa melihatnyadari wajah mereka. Skill yang harus dipancing keluar. Itulah tugas saya sekarang. Menjadikan mereka siswa yang berprestasi." " Anda bersemangat sekali Pak. Perkenalkan nama saya Rico. Saya mengajar olah raga. Tadi waktu Bapak masuk saya ada di lapangan." Mereka bersalaman tanda kenalan. Beberapa menit kemudian ruangan hampa. Yang tersisa hanya Yoga dan Bu Rany. " Saya lihat Bapak tenang-tenang saja. Kami semua tahu bahwa kelas itu ialah kelas neraka bagi guru yang mengajardi sana", Bu Rany menggunakan suara yang datar. " Iya sih. Tapitidak menurut saya. Kelas itu sangat menantang. Dan saya akan tetap bertahan di sini." " Sepertinya itu akan sangat sulit." " Tidak. Yang penting tujuan kita adalah mengajar. Bythe way, mengapa Ibu tetap mengajardi sekolah ini?" " Karena..." " Pasti karena sulit mencari pekerjaan kan?" " Eeeh!? Bapak tidak tahu apa-apa!" " Saya juga berada di posisi yang sama dengan Ibu. Setelah lulus S1 saya sebenar sudah bekerja di sebuah sekolah. Kemudian karena ada suatu hal yang membuat saya diberhentikan, saya tidak diterimalagi di sekolah yang lain. Dan saya melihat peluang untuk menjadi guru hanya di sini. Walaupun mungkin mereka akan mencoba membunuh saya. Saya tidak takut." Keadaan senyap sejenak. "Saya harap ", Bu Ranymemungut tasnya bersiap untuk pulang," apa yang Bapak katakantadi bukan omong kosong." Tinggal Yoga sendirian di kantor setelah kepergian Bu Rany. Wajah Yoga tampak gembira seperti muncul semangat dan motivasi baru saat mendengar perkataan Bu Rany. " Akan ku buktikan... Rany!" ¤¤¤ Karena tertidur di kelas, Yoga belum menyentuh makanan sama sekalihari ini. Seakan-akan mobil kehabisan bensin, Yoga mengendarai sepedanya dengan sangat lambat. Kecepatannya diperkirakan 5 km/jam. Warungmakan di depannya memberinya energi tambahan untuk menginjak pedal sepeda kesayangannya. Suara perutnya mengejutkan Bu Rany yang tanpa disadari Yoga sedang makan di situ. " Bu, nasi porsi 10.000!" Yoga menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ternyata di depannya ada Bu Rany. Ini adalah sebuah kejutan yang tidak diharapkannya. " Bu Rany! Kebetulan sekali. Ibu biasa makan di sini?" " Apa yang Bapak lakukan di sini?" " Saya kelaparan Bu. Saya belum makandari pagi." Tawa kecil Bu Rany tiba-tiba meledak. " Wajah Bapak lucu kalau lagi kelaparan." " Benarkah?" Yoga juga ikut tertawa. Dari kejauhan Sam bersama Yumi memotret mereka berdua. " Mesra sekali mereka. Ini akan menjadi hadiah pertama mu, PakYoga", Sam tersenyum sinis. nipoazwar@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar